Kebudayaan Nasional pastilah tersusun atas kebudayaan-kebudayaan lokal yang adi luhung. Keberadaanya akan menjadi entitas kebangsaan, simbol kebesaran bangsa. Secara teoritik masyarakat pastilah akan menjunjung tinggi kebudayaannya, namun fakta akan berbicara tentang banyaknya distorsi yang terjadi, pengaruh lingkungan global dan perkembangan informasi yang tak terbendung oleh batasan demografi lambat laun mampu meluluh lantahkan kebudayaan maupun local wisdom pada tataran grassroot.

Permasalahan ini bukanlah milik penyelenggara negara sebagai empunya, namun akan menjadi take home assigment bagi kita semua. Degradasi kebanggaan akan budaya sendiri dengan substitusi budaya import yang lebih mendukung performance akan menggeser keberadaan budaya lokal sebagai raja di negeri sendiri. Banyak upaya yang sebenarnya mampu menjadi solusi dari fenomena ini.

Pada jabaran bakground ini kita tidak akan berbicara kontribusi permasalahan di atas dengan skup yang luas, ulasan ini akan kita batasi pada kebudayaan lokal yang ada dan berpengaruh signifikan terhadap perkembangan emosi, dan pribadi kita. Jawa timur, khususnya Malang memiliki budaya yang merupakan masterpiece perkembangan budaya nasional bahkan UNICEF telah mengakuinya sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity pada tahun 2003. Seni budaya tersebut adalah Wayang kulit; yang merupakan perpaduan puncak kebudayaan seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Kebanggaan nasional yang mampu menjadi secercah Aurora yang melatar belakangi pembuatan blog ini.

Karya cipta manusia Indonesia yang luar biasa tersebut mampu membanggakan kita ditengah terpuruknya citra negara ini dimata internasional. Kebanggaan tidaklah hanya bisa dilakukan lewat oral saja, survey sederhana yang pernah saya lakukan sebagian besar warga Indonesia yang berusia 40 tahun dan berada di wilayah tempat domisili saya tidak memahami seni Wayang ini. Indikasi apa yang digunakan untuk menyimpulkan surney tersebut?. Untuk menjawab pertanyaan yang mungkin muncul tersebut saya akan menguraikannya sebagai berikut:
1. Ketidak tahuaan akan latar belakang/ sejarah dari wayang kulit
2. Tidak paham jalan cerita dari suatu pertunjukan wayang
3. Tidak mengenali tokoh pewayangan
4. Tidak paham dengan bahasa yang digunakan (Bahasa Jawa Kawi)

Masalah tersebut yang dirasakan penulis sebagai permasalahan utama, permasalahan lain masih sangat dimungkinkan akan bermunculan. Kehadiran blog ini tidak bermaksud untuk memberikan pemahaman pewayangan secara holistik, tapi merupakan trigger bagi bagi para pembaca sekalian untuk lebih mencintai local wisdom yang seharusnya menjadi identitas budaya kita.

Sesuai dengan teori kependidikan, bahwa untuk meningkatkan motivasi akan permasalahan di atas diperlukan beberapa hal yang mampu menyederhanakan permasalahan yang kompleks untuk memahami wayang kulit tersebut dengan sesuatu hal yang sederhana untuk dibahas dalam blog ini. Penulis akan mencoba menyajikan cerita-cerita unik yang diambil dari kisah pewayangan, dan perlambang yang bisa diambil untuk pelajaran hidup kita. Dalam penulisan sekuel pewayangan ini penulis tidak menggunakan kajian literatur, pendekatan yang digunakan adalah pengalamannya selama bersinggungan dengan kolega-kolega disekitarnya yang merupakan peminat wayang. Sehingga dalam penyusunannya dimungkinkan ada perbedaan jalan cerita dengan pakem wayang baik dalam lingkup lokal maupun dalam lingkup interlokal. Penulis dengan suka hati menerima masukan, dan sharing dalam penyempurnaan kutipan cerita wayang ini.

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

2 responses »

  1. akhanggit says:

    Menarik bahasannya

    budaya asli bangsa memang perlu dilestarikan.
    Tapi aku punya pandangan lain terhadap substitusi budaya lain yang masuk di negara kita.
    Coba anda renungkan, kenapa ya budaya asing yang masuk di Indonesia selalu yang berdampak negatif ? atau jangan-jangan tujuan bangsa asing memperkenalkan budaya mereka bukanlah untuk menggeser budaya asli kita tapi punya tujuan lain? Renungkan saudara.

    lanjutkan dalam berkarya dalam blog. Semangat salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s