Darmawan, Ericka. 2011

Sewaktu kuliah dasar-dasar mengajar kita dikenalkan pada pendidikan menurut UNESCO, yang meliputi empat pilar, yaitu: “learning to know, learning to do, learning to be”, dan “learning to live together”. Belajar untuk mengetahui (learning to know) dalam prosesnya tidak sekedar mengetahui apa yang bermakna tetapi juga sekaligus mengetahui apa yang tidak bermanfaat bagi kehidupan. Belajar untuk bisa melakukan sesuatu (learning to do), dimana proses belajar menghasilkan perubahan dalam ranah kognitif, peningkatan kompetensi, serta pemilihan dan penerimaan secara sadar terhadap nilai, sikap, penghargaan, perasaan, serta kemauan untuk berbuat atau merespon suatu stimulus. Belajar menjadi diri sendiri (learning to be) yang diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri. Belajar berperilaku sesuai dengan norma dan kaidah yang berlaku di masyarakat. Belajar untuk hidup berdampingan (learning to live together), dalam kehidupan global dimana perbedaan kultur, geografis, dan etnik membangun pluralisme (Rahardjo, tanpa tahun).

Sebagai bahan penunjang proses pendidikan penyempurnaan kurikulum terus dilakukan sampai pada tahun ajaran 2001-2002 dan muncul gagasan konsep pendidikan berbasis kecakapan hidup (life skill education), diikuti dengan dibuatnya draft KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Pada tahun 2006 pengembangan kurikulum sampai pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan (Sanjaya, 2008). Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang tertera pada Permen No.23 Tahun 2006.

Melalui KTSP, siswa diharapkan tidak hanya pandai secara kognitif, akan tetapi juga memiliki kemampuan dalam dunia nyata, akhlak mulia, penerapan tingkah laku, sebagai realisasi materi yang dipelajari di kelas sehingga guru hendaknya mampu mengubah sistem pembelajaran yang menempatkan guru sebagai sumber informasi utama (teacher centered). Sistem pembelajaran ini akan menyebabkan siswa menjadi pasif dalam menerima suatu informasi, dan sikap yang kurang responsif. Pembelajaran ideal adalah dengan berorientasi pada siswa (student centered), siswa akan berusaha mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dan terlibat aktif dalam mencari informasi (BNSP Permendiknas 22, 2006).

Betapa indahnya pendidikan Indonesia apabila guru mampu menjadi sosok yang pantas untuk di gugu lan di tiru serta siswanya yang mampu memotivasi dirinya untuk menjadi yang terbaik, barangkali kita mampu melampaui pendidikan negara tetangga kira (Malaysia) sebelum jauh berbicara tentang pendidikan global. yuk…monggo pak guru, bu guru kita meng-upgrade kemampuan kita, sehingga betul-betul layak menyandang gelar guru profesional

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s