Nama sinta tidaklah asing dengan telinga masyarakat kita, mulai nama tetangga kita sampai dengan nama swalayan mengambil kata “Sinta”. Darimana sebenarnya nama tersebut diambil? Tidak lain dan tidak bukan adalah tokoh pewayangan yang memiliki kesetiaan tingkat wahid terhadap suaminya.

Berdasarkan kisah Ramayana dewi sinta merupakan putri kesayangan dari Janaka (Seorang raja dari negara mantili). Sinta adalah gadis cantik, elok jelita dan berkepribadian luhur (ada nggak ya ce’ model begini jaman sekarang?). Tak pelak lagi banyak ‘kumbang-kumbang’ yang menggoda (kayak lagu dangdut saja..ho ho ho). So, akhirnya raja Janaka membuat sayembara, dalam bahasa jawa bunyinya: “sopo ae sing iso mentang langkat guwo wijaya bakal dijodohake dining dewi Sinto” dalam bahasa Indonesia kurang lebih translatenya begini “barang siapa yang bisa mengulur tali busur panah pusaka akan dijodohkan dengan dewi sinta”. Alkisah banyak putra mahkota yang berdatangan namun tak satupun yang mampu, lha trus siapa yang jadi hero nya? Dia adalah Rama wijaya. Setelah sayembara selesai dengan mampunya Rama mengulur tali busur tersebut maka resmilah keduanya menjadi pasangan suami istri (sweeet…sweeet).

Keduanya merupakan pasangan yang ideal, kalo sekarang mungkin seperti Brad Pitt dan Angelina Jolie. Makanya banyak banget yang ngiri, bahkan salah seorang raja yang bernama Rahmana menculik dewi Sinta dengan maksut untuk manjadikannya istri. Kisah penculikan ini berlangsung bertahun-tahun, namun tak menjadikan dewi sinta menuruti keinginan Rahwana.

Kisah penyelamatan dewi Sinta tak kalah hebohnya, usaha pertama oleh anoman dengan membakar istana Alengka (istananya Rahwana). Efek samping dari penggalan cerita ini luar biasa, sampai-sampai mengilhami para pencipta lagu dangdut dengan terciptanya lagu “Anoman obong”. Tahu kan? Yang dinyanyikan oleh trio tiger.

Sebenarnya ada beberapa upaya lagi yang dilakukan Rama untuk melepaskan istrinya namun akan kita bahas lagi dalam kesempatan mendatang. Akhir dari cerita ini happy ending kok, jadi nggak kan bersambung dengan ratusan episode seperti sinetron cinta fitri. Rahwana akhirnya berhasil dikalahkan oleh Rama dengan sepuluh kali memanah Rahwana menggunakan panah guwo wijaya. Lho..kenapa harus sepuluh kali? Jangan lupa bahwa Rahwana juga memiliki nama lain Dasamuka, artinya mukanya berjumlah 10 sehingga harus dipanah sebanyak 10 agar muka/bagian kepalanya tidak kembali beregenerasi.

Kisah ini memberikan kita tauladan kesetiaan yang begitu mulia, yang begitu agung… cinta dan kesetiaan bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, cinta menjadi landasan sebuah Kesetiaan. Di dalam kesetiaan terkandung nilai cinta yang mempersatukan. Sulit membayangkan ada cinta berdiri sendiri tanpa disertai kesetiaan. Demikian pula sulit memahami, ada sebuah kesetiaan tanpa landasan cinta di dalamnya. Cinta tanpa kesetiaan adalah kosong dan kesetiaan tanpa didasari cinta adalah kepura-puraan. Dalam kesetiaan ada komitmen melayani tanpa pamrih tulus ikhlas apa adanya berlandaskan welas asih. So… penulis mempersilahkan anda mengambil konklusi lain, karena sifatnya yang subyektif dalam mengambil “core” cerita epik ini.

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

2 responses »

  1. emy says:

    bagus-bagus, tapi ya bisa ketebak akhirnya, cerita ini atau tulisan ini ujungnya juga diserahkan ke pembaca, seolah pean gak berani memutuskan saja, padahal ini tulisan pean dwe……wkwkwkwk

    eh tumben bicara cinta n kesetiaan.hehehe. curiga dot com. xixixixixi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s