Siapa yang tak kenal SBI (Sekolah Bertaraf Internasional)? atau bahkan RSBI yang merupakan embrionya. Menyandang status sebagai siswa SBI merupakan dambaan orang tua dan siswa, mungkin karena prestise atau karena namanya yang keren.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada beda signifikan content materi dan hasil keilmuan yang diajarkan disekolah SBI dengan sekolah yang notabene konvensional (baca: sekolah biasa).  Di dalam pelaksanaan SBI terdapat kesepakatan bersama yang eksplisit, yakni point of view yang digunakan sebagai tolok ukur keberhasilan adalah penggunaan bahasa Inggris sebagai  pengantar pembelajaran (itupun apabila semua elemen yang terlibat dalam pengajaran mampu berbahasa Inggris), hal inilah yang sepatutnya menjadi evaluasi mengapa bahasa Inggris yang harus menjadi tolok ukur keterlaksanaan SBI? mengapa bukan materi yang diperdalam dan ketuntasan belajar yang menjadi faktor utama. Disini saya tidak menyebarkan kebencian terhadap bahasa Inggris, justru kemampuan berbahasa Inggris merupakan fondasi utama untuk belajar keilmuan namun perlu juga ditekankan bahwa hal tersebut bukan penentu utama keberhasilan SBI.  Kami sebagai pengajar merasakan perbedaan yang  sangat besar ketika kita mengajar dengan menggunakan bahasa ibu dan mengajar menggunakan bahasa Inggris. Siswa lebih cepat memahami dan menguasai ilmu ketika memakai bahasa Ibu,

Profesor AD Corebima, guru besar kependidikan universitas negeri malang, menekankan bahwa bahasa sehari-hari yang kita gunakan, disadari atau tidak, telah membentuk struktur berfikir dan sudut pandang seseorang. Mengetahui itu, saya menjadi miris, kenyataan bahwa pemaksaan penggunaan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah SBI PASTI turut mengubah struktur berfikir dan sudut pandang para siswa. Mereka justru meninggalkan -bahkan lupa- dengan bahasa ibu mereka yang justru banyak diakui merupakan bahasa yang luhur dari budaya yang adi luhung dan bermartabat. Kita tidak harus ‘MENJUAL’ anak-anak didik kita dengan pemaksaan berupa penggantian bahasa indonesia dengan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah. Saatnya kita sadar dan STOP ikut-ikut bangsa barat secara membabi buta, jika ini terus berlanjut, pantas jika ada seorang pakar pendidikan yang memplesetkan RSBI sebagai RINTISAN SEKOLAH BABU INDONESIA. Istilah lain yang bermunculan ditengah para pendidik semisal:

ü  Sekolah Bertarif Internasional,

ü  Sekolah Bahasa Inggris,

ü  Sekolah Banyak Iuran

mengapa demikian? Karena adanya hidden agenda yang diterapkan oleh Washington kepada Jakarta memalui blockgrand nya. Terlepas dari polemik tentang hal itu, tujuan pendidik adalah meningkatkan kualitas pengetahuan anak didik kita. Marilah kita fasilitasi anak didik kita dengan keilmuan yang MANTAB namun bukan indikator bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar yang bahkan belum tervalidasi tingkat efektivitasnya.

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s