Saat ini kita dihebohkan dengan spanduk-spanduk yang bernada “sukseskan pendidikan karakter”. Kemudian menjadi bermunculan pertanyaan dari pembaca tentang urgensi  maupun “core” dari program baru ini. Sejatinya implementasi pendidikan karakter di Indonesia senantiasa ada pada zamannya. Namun dengan berbagai penyebutan yang berbeda mulai dari Civics dan Pendidikan Kewarganegaraan pada zaman Orde Lama menjadi PMP dan PPKn pada masa orde baru. Namanya memang berbeda, namun muatan dan orientasinya sama yakni Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4), dengan pendekatan pembelajaran yang didominasi oleh pendekatan indoktrinatif dengan modus menerapkan transmisi nilai-nilai yang terdapat dalam butir-butir P-4.

Hal selanjutnya yang menjadi tanda tanya besar adalah “Grand design” model pendidikan seperti apa yang nanti akan mengembalikan pendidikan karakter pada rel yang seharusnya? Melihat fakta real dilapangan selama sepuluh tahun belakangan ini seperti perilaku free sex, perkelahian pelajar, penyalahgunaan narkoba bahkan meningkatnya tindak pelanggaran dijalan raya oleh pelajar telah mampu menggambarkan pentingnya reorientasi pendidikan karakter.

Dalam konteks idealitas pendidikan karakter meliputi 9 pilar yang saling berkaitan, yaitu: responsibility (tanggung jawab), respect (rasa hormat), fairness (keadilan), courage (keberanian), honesty (kejujuran), citizenship (kewarganegaraan), self-discipline (disiplin diri), caring (peduli), dan perseverance (ketekunan).

Menurut Safaruddin (2010) sesungguhnya semua pilar karakter tersebut memang harus dikembangkan secara holistik melalui sistem pendidikan nasional di negeri ini. Namun, secara spesifik memang juga ada pilar-pilar yang perlu memperoleh penekanan. Sebagai contoh, pilar karakter kejujuran (honesty) sudah pasti haruslah lebih mendapatkan penekanan, karena negeri ini masih banyak tindak KKN dan korupsi. Demikian juga dengan pilar keadilan (fairness) juga harus lebih memperoleh penekanan, karena kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak pendukung pemilukada yang kalah ternyata tidak mau secara legowo mengakui kekalahannya. Selain itu, fenomena tawuran antarwarga, antarmahasiswa, dan antar etnis, juga sangat memerlukan pilar karakter toleransi (tolerance), rasa hormat (respect), dan persamaan (equality).

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s