Mahasiswa, dengan pemikiran kritis dan merakyatnya, terlanjur tercatat di lembaran sejarah bangsa ini selalu menjadi lokomotif perubahan dan kekuatan utama dalam melawan kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat. Pada tahun 1922 dengan Perhimpoenan Indonesia di Belanda, Robohnya Orde Lama 1966 hingga lahirnya Reformasi 1998, mahasiswa selalu aktif dalam pergerakannya memperjuangkan aspirasi rakyat demi tegaknya keadilan.

Posisi strategis mahasiswa sebagai kaum intelektual bagian dari rakyat, membuat suara dan aspirasinya mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap arah kebijakan pemerintah. Melalui organisasi kemahasiswaan, suatu masalah akan dianalisa dan dicarikan jalan keluarnya untuk kemudian disampaikan. Tentunya analisa tersebut adalah ‘ala’ mahasiswa. Sebuah cara dan alur berfikir yang sangat tergantung pada background dan arah pergerakan organisasi tersebut. Namun, terlepas dari organisasi macam apa, yang terpenting dari itu semua adalah kecerdasan dalam mengambil keputusan yang akan mempunyai dampak pada anggota pada khususnya dan selanjutnya pada masyarakat.

Pasca runtuhnya orde baru ini, seakan-akan gerakan mahasiswa tidak terdengar lagi gaungnya. Bukan berarti intensitas aksinya yang berkurang, namun lebih disebabkan oleh tidak adanya simbol perlawanan bersama (common enemy) seperti waktu rezim Soeharto masih kokoh berdiri. Aksi mahasiswa (baca=demonstrasi) saat ini cenderung hanya menjadi `trend’ atau hanya sekedar menunjukkan eksistensi organisasi dan sedikit sekali menyentuh makna yang sesungguhnya. Permasalahan di sudut Tanah Air, akan menjadi isu aksi di suatu daerah tanpa memperhatikan objeknya. Tidak bisa dipungkiri, sekarang ini terpampang atau tidaknya wajah peserta aksi dalam suatu media adalah indikator kesuksesan suatu aksi. Ditambah lagi, kecenderungan media yang senang meliput peristiwa bentrokan fisik antara aparat dan mahasiswa membuat kita semua gemar bertindak anarkhis. Memang membentuk opini masyarakat adalah penting dilakukan, menunjukkan eksistensi organisasi juga penting, namun opini yang akan terbentuk akan negatif jika aksi malah mengganggu ketertiban umum dan diisi dengan bentrokan berdarah.

Mengkritisi suatu permasalahan memang sangat diperlukan. Namun semuanya ada porsi dan kadar keefektifannya masing-masing. Demonstrasi merupakan salah satu cara diantara sekian banyak tindakan yang dapat  dilakukan mahasiswa dalam membangun bangsa ini. Oleh karena itu, sangat keliru jika dikatakan bahwa demonstrasi merupakan ‘ruh’ organisasi pergerakan. Kasihan sekali jika saat ini masih ada organisasi kemahasiswaan yang menjadikan intensitas aksi adalah indikator kesuksesan mereka.

Peran Organisasi Kemahasiswaan

Berlatar belakang dari semua permasalahan diatas, kita semua harus cerdas dalam menganalisa suatu kebijakan dan tidak terburu nafsu untuk selalu mengerahkan masa dalam suatu aksi. Aksi yang dilakukan dengan cara yang tepat dengan melihat situasi dan kondisi sasaran akan lebih bermanfaat dan efektif. Kita semua (gerakan mahasiwa) boleh saja berada di luar sistem dan menjadi oposisi yang objektif bagi pemerintah. Tetapi, berada di dalam sistem adalah suatu pilihan yang perlu kita pertimbangkan, mengingat tugas mahasiswa adalah mengontrol pemerintah, mendukung, dan memberikan sumbangsih yang positif demi kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, banyak hal yang dapat dilakukan mahasiswa dalam membangun bangsa ini secara cerdas.

Dari segi intelektual, menekuni dengan serius bidang studi kita merupakan hal yang sangat positif.  Penelitian yang membawa manfaat dan mudah diaplikasikan oleh masyarakat akan sangat membantu. Mengembangkan suatu ilmu untuk memecahkan berbagai persoalan dalam masyarakat, merupakan bentuk ‘real’ yang langsung menyentuh kepentingan. Tentunya, penelitian ini bukan merupakan penelitian ‘proyekan’ seperti yang saat ini banyak terjadi. Kita hanya akan menjadi bibit-bibit kapitalis ketika dihadapkan pada pilihan keuntungan materi yang melimpah karena hasil pemikiran kita. Oleh karena itu menjadi sangat penting idealisme sebagai pembela rakyat kecil ini kita jaga sampai kapanpun juga.

Di era global dan di tengah kemajuan bidang teknologi informasi seperti sekarang ini, penguasaan media merupakan sebuah tuntutan yang harus dilakukan. Media disini sangat beraneka ragam dan bukan hanya TV atau radio. Internet dan media massa merupakan media yang mengulas secara detil dan lebih mendalam dalam bentuk tulisan tangan jika dibandingkan dengan visual dan audio. Oleh karena itu menyuburkan budaya menulis akan mempertajam daya kritis yang mendalam seorang mahasiswa dalam menanggapi suatu permasalahan.

Perguruan tinggi sebagai tempat mahasiswa yang bergerak di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian terhadap masyarakat seharusnya benar-benar kita optimalkan perannya. Lebih dari 40 juta orang miskin yang rata-rata berpendidikan rendah ada di Indonesia. Kita dapat ikut serta mengatasi hal tersebut dengan cara melakukan pendampingan, memberikan ketrampilan, dan melindungi mereka dari kesewenang-wenangan.

Sebagai kesimpulan, sering atau tidaknya suatu organisasi dalam melakukan demonstrasi bukanlah tolok ukur yang ideal dalam memandang kemajuan organisasi tersebut . Banyak sekali hal-hal yang dapat kita lakukan untuk membangun bangsa ini. Diperlukan organisasi kemahasiswaan yang menjadi wadah dan membentuk pola pikir anggotanya untuk berpikir kritis dan memandang serta mengaplikasikan suatu pemikiran berdasarkan pada nilai keintelektualan, moral, dan sosial. Selamat berjuang, Hidup Mahasiswa!!

(Grienny Nuradi Atmidha)

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s