Masih terasa dibenak para mahasiswa baru akan gaung PKPT atau dalam istilah umum disebut dengan OSPEK. Bukan materi dalam ruangan yang berkesan, justru pengalaman outdoor lah yang jauh berkesan. Kegembiraan berkumpul dengan maba Sefakultas maupun rivalitas yang muncul pada saat semua maba berkumpul di lapangan utama. Pengalaman yang sungguh tidak mudah dilupakan dimana narsisme Jurusan, Fakultas bahkan narsisme Universitas bermunculan separatis.

Esensi PKPT adalah penyiapan mereka yang kini berjuluk mahasiswa agar mampu sukses berkuliah dan tidak mengalami kesulitan pada selama menyelesaikan tujuan utamanya untuk menuntut ilmu. Dengan keluguan yang masih begitu kentara dan ketidakpahaman akan perpolitikan kampus maba sebenarnya dihadapkan pada pilihan yang dilematis dan terselubung. Mengapa demikian? Kita akan mencoba mengupas sedikit kehidupan kampus. Terdapat 3 tipe mahasiswa apabila diklasifikasikan secara sederhana: apatis (mahasiswa yang berorientasi sukses kuliah secara akademik), romantis (mahasiswa yang hari-harinya di isi dengan orientasi bersosialisasi dengan lawan jenis/pacaran) dan organisatoris (aktifis mahasiswa dengan segudang kesibukan berorganisasi). Idealnya Kampus mencetak mahasiswa yang organisatoris dan berprestasi, namun tidak semudah membalik telapak tangan tentunya. Pilihan itu diserahkan sepenuhnya kepada mahasiswa yang bersangkutan.

Secara general organisasi kampus dibagi menjadi 2 besar: OPM dan nonOPM. OPM (Organisasi Pemerintahan Mahasiswa) merupakan sarana mahasiswa untuk mengembangkan jiwa berorganisasi dan kepemimpinan melalui BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa) sedangakan nonOPM dipunggawai oleh UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) semisal Pramuka, Menwa ataupun PMI.

Selain opsional intern tersebut ada pula alternatif kegiatan eksternal kampus yang lazim dikenal dengan OMEKS (Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus), masalah inilah yang akan kita bahas menjadi point utama. OMEKS menjadi “core” atau inti dari kehidupan organisasi pemerintahan mahasiswa karena sebagiann besar pengurus OPM berasal dari OMEKS, namun keberadaanya berada dieksternal kampus. Mengapa begitu? Rupa-rupanya pihak universitas enggan untuk mengambil resiko dengan melegalkan OMEKS untuk menjadi intra kampus karena kita ketahui bahwa OMEKS tersebut menjadi underbow dari partai politik nasional atau bahkan organisasi massa. Hal inilah yang mendorong OMEKS untuk menarik minat maba sebanyak-banyaknya agar masuk dan mengadopsi ideologi mereka, menginisiasikan gagasan-gagasan kelembagaan yang mereka agungkan. Berbagai cara akan dilakukan untuk menarik simpati maba: mencarikan kos-kosan, info-info tentang kajian keagamaan, bahkan dengan terang-terangan melalui anggota BEM yang notabene mereka adalah aktifis di OMEKS.

Realitas dilapangan akan lebih mencengangkan, propaganda yang digunakan akan sangat inovatif dan kreatif. Namun upaya ini akan kontraproduktif karena maba dihadapkan pada kebimbangan dan ketidaktahuan akan realitas kehidupan kampus. Tidak ada larangan bagi maba untuk memilih OMEKS mana yang akan meraka pilih, asalkan mereka benar-benar faham akan konsekuensi atas pilihannya: tidak asal ikut teman, dan tidak tergiur dengan kajian yang menjurus pada penarikan anggota baru. Diakhir paparan ini penulis hanya mengingatkan untuk maba bahwa kenalilah terlebih dahulu kehidupan kampus yang sebenarnya sebelum kalian menentukan dan menjatuhkan pilihan akan suatu hal baik OPM, nonOPM maupun OMEKS.

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s