Darmawan, Ericka. 2010

Sepuluh tahun ini Indonesia merupakan negara berkembang yang begitu haus akan metode pembelajaran efektif, sikap ini bagaikan dua sisi mata uang. Disisi lain membawa keuntungan immateriil sedangkan disisi lain juga membawa dampak negatif. Terkadang kita sebagai praktisi pendidikan akan membabi buta menginisiasi dan mengadopsi berbagai model pembelajaran bahkan cenderung mengagung-agungkannya. Pendidikan kooperatif kalo kita fikirkan secara mendalam sudah menjadi icon masyarakat Indonesia sejak dahulu kala dengan: kerja baktinya, musyawarahya, pengairan subaknya dan berbagai model kerjasama yang lain.

Berikut merupakan diskursus pada tataran formalis logis dalam mengejawantahkan pendidikan karakter yang katanya “adopsi” dari dunia barat. Hasil dari tulisan ini penulis berharap pembaca dapat mengambil benang merah akan pertautan antara keaarifan lokal dengan pengembangan dunia pendidikan. Sehingga didapatkan pemahaman yang holistik akan makna adopsi dan menggali dari budaya bangsa sendiri.

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang saling asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan. Pembelajaran ini secara sadar dan sengaja menciptakan interaksi yang saling mengasihi antar sesama siswa. Sebagaimana pendekatan lain yang digunakan dalam pembelajaran, guru diharapkan mampu menemukan cara untuk memenuhi berbagai kebutuhan siswa (Nurhadi, 2004: 61). Oleh karena itu, kooperatif ini juga memberikan kesempatan pada kelompok dengan latar belakang anggota kelompok yang berbeda untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama.

Strategi pembelajaran ini merupakan cara yang terbaik bagi siswa dengan kemampuan yang berbeda untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam kelas, agar mereka dapat mengembangkan sikap saling menghargai antar ras dan perbedaan yang lain. Setiap kelompok memiliki anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik mapun kemampuannya (tinggi, sedang, rendah) (Nurhadi, 2004: 65).

Ciri-ciri pembelajaran kooperatif menurut Ibrahim (2000:6) adalah sebagai berikut:

a.             Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya

b.            Kelompok dibentuk dari siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah

c.             Apabila mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, agama, etnis dan jenis kelamin yang berbeda

d.            Pembelajaran lebih berorientasi pada kelompok daripada individu

Berdasarkan  tulisan diatas tidak ternafikan bahwa nilai pembelajaran kooperatif sudah terinisiasi sejak dahulu kala dalam jati diri bangsa Indonesia, pertanyaan yang lain muncul adalah, kenapa bukan kita yang kemudian menemukan terlebih dahulu gaya pembelajaran seperti itu. Pertanyaan yang menjebak sebenarnya, mungkin kita juga harus mengevaluasi diri beserta segenap komponen yang menjadi garda terdepan dalam pendidikan bahkan juga para pandega-pandega kampus untuk lebih kreatif lagi menggali kearifan lokal yang kini hanya pemanis pidato pembukaan dan penarik simpati massa.

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s