Darmawan, Ericka. 2010

Begitu menulis judul ini saya menjadi teringat dicanangkannya pendidikan perdamaian di Universitas Negeri Malang oleh bapak Yusuf kalla yang menjabat Wapres kala itu. Cita-cita yang adiluhung sebagai manives dari kerinduan kita akan pendidikan yang benar-benar meng”internalisasi” nilai-nilai perdamaian. Hal itulah yang menginisiasi saya untuk kembali meretas grand design pendidikan perdamaian yang dapat dijadikan rujukan untuk mewujudkan pendidikan yang output nya mampu menjadi agen-agen perdamaian.

Disadari atau tidak, konflik vertikal dan horizontal yang terjadi di Indonesia dapat disimpulkan lebih dominan berakar struktural. Terutama bersumber pada faktor ketidakadilan sosial dan kegagalan mengelola potensi kemajemukan di berbagai daerah. Untuk itu, modul peacebuilding yang dikembangkan mesti mencerminkan korelasi antara tiga elemen dasar paradigma yaitu, pendidikan budaya damai, berbasis keadilan sosial, dan integrasi sosial.

Saya yakin ekspektasi kita akan tinggi untuk pilot project pendidikan perdamaian ini, mungkin juga kita berpikir model pembelajaran yang bagaimana? Haruskah kita studi banding dengan biaya besar? Anda SALAH, solusinya sangat down to earth

Sebagai bahan pembanding dan tinjauan utama dari tulisan ini adalah SEKOLAH DASAR, SD yang mampu digunakan sebagai trigger terciptanya embrio pendidikan perdamaian. Ya, sekolah pendidikan dasar yang berasal di Moseley-Birmingham, sebuah kota yang berada di kerajaan Inggris raya. Sekolah ini merupakan contoh keberhasilan pendidikan perdamaian yang keberhasilannya akan mencengangkan kita. King David adalah nama sekolah yang didirikan pada tahun 1865 oleh orang-orang israel yang menetap di Inggris.
King David merupakan sekolah Yahudi unggulan di Inggris dimana separo dari siswanya merupakan siswa muslim, siapa yang tak tahu kalau dalam percaturan global konflik antara muslim dan yahudi akan berlangsung sepanjang jaman. Namun pabila kita melihat fakta yang terjadi dalam lingkungan sekolah tersebut akan sangat berbanding terbalik, hampir tidak pernah terjadi konflik rasial dan agama, yang ada adalah rasa saling memahami penghormatan terhadap kebebasan keberagamaan yang bersifat hakiki. Pertautan tali persaudaraan antar siswa, pemahaman lintas budaya dan agama yang diretas sejak dini memberikan pondasi yang luar biasa terhadap perdamaian. Pun dengan yang terjadi pada kerukunan yang terjalin antar orang tua siswa, banyak sekali cerita-cerita tentang bagaimana mereka (mantan siswa SD) membantu teman muslimnya yang terkena musibah, bersusah payah menghadiri pernikahan temannya, atau saling membantu ketika masih melanjutkan kuliah. (bisa dibaca di: web The Independent)

Konsep-konsep sekolah dasar multikultural dan multiagama sangat mungkin membantu memberikan pondasi sikap saling menghargai dan percaya sebagai bingkai perdamaian, dengan pemahaman yang holistik akan pentingnya persatuan ditanamkan sejak dini. Pemahaman tentang keberagaman akan mudah diterima dan diinternalisasi pada masa kanak-kanak, harapan dari penulisan opini ini adalah terdegradasinya sikap primordialisme, menghargai pentingnya kebersamaan dan penghargaan terhadap sesama yang dimanivestasikan dalam pendidikan perdamaian yang benar-benar membawa kedamaian.

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s