Pengamatan bentuk dan ukuran sel bakteri akan tampak jelas jika dilakukan pewarnaan terhadap sel. Metode pewarnaan sel bakteri ini pertama kali dikembangkan oleh Christian Gram pada tahun 1884. Menurut Hastuti (2007) bahwa pewarnaan gram merupakan pewarnaan diferensial yang membedakan bakteri dalam dua kelompok yaitu bakteri gram positif yang mengikat zat warna pertama dan bakteri gram negatif yang melepas zat warna pertama dan mengikat zat warna kedua. Dengan metode ini bakteri dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar yaitu:

1)        Bakteri gram positif yang berwarna ungu pada akhir pewarnaan

2)        Bakteri gram negatif yang berwarna merah pada akhir pewarnaan

Gram positif dan gram negatif adalah suatu sistem penggolongan bakteri berdasarkan ketebalan peptidoglikan dan kandungan peptidoglikan itu sendiri. Gram positif memiliki 2-3 lapis membran sitoplasma dan lapisan yang tipis dimana peptidoglikan itu terdiri atas lipopolisakarida. Sedangkan gram negatif memiliki lapisan membran sitoplasma yang kompleks dikelilingi oleh membran pipih tunggal peptidoglikan. Gram negatif memiliki ruang antara membran luar dan dalam yang biasa disebut juga ruang periplasma (Brock, 2005).

Pada akhir perlakuan pewarnaan, organisme yang dapat menahan kompleks pewarna primer (amonium oksalat kristal violet-iodium) sampai akhir prosedur (sel-sel nampak ungu) disebut gram positif. Sedangkan organisme yang kehilangan kompleks pewarna primer pada waktu pembilasan dengan alkohol 95% namun kemudian terwarnai oleh pewarna tandingan yaitu safranin (sel-sel nampak merah) disebut gram negatif.

Adanya perbedaan pewarnaan antara gram negatif dengan gram positif karena dinding sel bakteri gram positif berbeda dengan dinding sel bakteri gram negatif, kompleks zat pewarna iodium rupanya terperangkap antara dinding sel dan membran sitoplasma organisme gram positif, sedangkan penyingkiran zat lipida dari dinding sel organisme gram negatif dengan pencucuian alkohol memungkinkan kompleks zat pewarna Yodium dapat disingkirkan dari sel. (Volk and Wheeler, 1984)

Dinding sel yang lebih tebal dalam bakteri gram positif menyusut oleh perlakuan alkohol karena terjadinya dehidrasi, menyebabkan pori-pori dinding sel menutup sehingga mencegah larutnya kompleks ungu kristal-Yodium pada langkah pemucatan. Sedangkan sel-sel gram negatif mempunyai kandungan lipid yang lebih tinggi pada dinding selnya dan lipid pada umumnya larut dalam alkohol dan aseton. Larutnya lipid oleh pemucat yang digunakan dalam pewarnaan gram diduga memperbesar pori-pori dinding sel dan inilah yang menyebabkan proses pemucatan pada sel-sel gram negatif berlangsung lebih cepat, (Hadi Utomo 1985) oleh sebab itu setelah pori-pori dinding sel bakteri gram negatif membesar maka pewarna kristal violet keluar pada proses pemucatan dan sel tersebut akan menyerap pewarna pembanding yaitu safranin yang berwarna merah.

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s