Setiap aliran filsafat tentu saja memiliki point of view yang berbeda dalam mempersepsikan terminologi pendidikan, berikut saya sajikan beberapa perbedaan esensial dari beberapa aliran tersebut.
Dalam ajaran idealisme ditegaskan bahwa pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan kenyataan adalah mustahil, pengetahuan adalah sebuah proses mental/psikologis yang bersifat subyektif sehingga pendidikan harus mampu membantu siswa menemukan kebenaran, keindahan dan kehidupan yang luhur sementara pandangan realisme menganggap proses pendidikan sebagai gambaran atau copy dari yang sebenarnya ada dalam alam nyata, artinya pengetahuan adalah benar dan tepat jika sesuai dengan kenyataannya, menurut sudut pandang aliran ini pendidikan untuk mengajarkan berbagai disiplin pengetahuan terpilih sebagai pembimbing kehidupan yang terbaik seperti sejarah, ilmu pengetahuan alam dan matematika.

Tinjauan lain dari filsafat esensialisme yang menerapkan prinsip idealisme dan realisme secara eklektis, filsafat ini berpendapat bahwa alam semesta dan isinya diatur oleh hukum yang mencakup semuanya sehingga tugas manusia hanya memahami agar bisa menghargai dan menyesuaikan diri dengan tatanan tersebut. Bila mengikuti pandangan ini maka penyelenggara pendidikan hanya perlu memberikan materi tentang menguak hukum alam (mata pelajaran Biologi dan Matematika).

Berbeda dengan aliran filsafat rekonstruksi sosial yang meyakini bahwa sekolah tidak terpisahkan dari latar belakang sosial dalam era kesejarahan tertentu, pikiran adalah produk dari kehidupan masyarakat tertentu disuatu waktu tertentu. Secara teknis filsafat, pendidikan hendaknya berubah dari esensialisme ke progresif, humanisme, dan rekonstruksi sosial. Melalui filsafat rekonstruksi sosial ini masyarakat dijadikan sumber dan juga dijadikan objek dalam belajar. Masalah-masalah yang berkembang dalam masyarakat, kebutuhan masyarakat, dan keunggulan masyarakat dapat dijadikan materi pelajaran. Dengan perubahan ini maka dunia pendidikan tidak menutup dindingnya terhadap masyarakat tetapi menjadikan masyarakat sebagai dasar untuk mengembangkan proses belajar dan sebagai sumber belajar. Dengan perubahan filosofi ini maka sifat pendidikan lebih terbuka terhadap berbagai perkembangan yang terjadi di masyarakat termasuk perubahan dan pengembangan kebudayaan.

Nah, bagaimana memandang dan memaknai filsafat yang tentu saja dimunculkan dengan pemikiran yang sangat mendalam ini, tentu akan normatif menurut nilai-nilai yang terinternalisasi dalam diri kita. Pendidik tentu telah dibekali keilmuan yang memadai untuk mengambil pemikiran yang akan digunakan sebagai rujukan.

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s