Usaha untuk mengidentifikasi bahan genetik dimulai sejak 1927 yang dilakukan oleh Frederick Griffith. Dia menggunakan D. pneumoniae untuk percobaannya. Dari hasil tersebut Griffith menyatakan bahwa bakteri galur IIIS yang telah dimatikan berperan di dalam konversi dari bakteri avirulen IIR menjadi virulen IIIS. Dia menyimpulkan bahwa terdapat bahan yang utama untuk terjadinya proses transformasi (transforming principle) yang berperan dalam konversi tersebut yang mungkin merupakan beberapa bagian dari kapsul polisakarida atau beberapa senyawa yang dibutuhkan untuk sintesis kapsul walaupun kapsul itu sendiri tidak dapat menyebabkan pneumonia.

Hasil percobaan Griffith dikonfirmasikan lagi oleh Henry Dawson pada 1931. Lebih lanjut, Dawson menunjukkan bahwa transformasi dapat terjadi secara in vitro (di dalam tabung reaksi), tanpa harus menginjeksikan bakteri ke dalam tikus. Tahun 1933, Lionel J. Alloway memperhalus sistim in vitro ini dengan hanya menggunakan ekstrak kasar sel S dan sel R hidup. Filtrat dari sel S sama efektifnya dalam mengiduksi transformasi dengan sel utuhnya.

Setelah selama sepuluh tahun melakukan penelitian, Avery, MacLeod, dan McCarty pada tahun 1944 mempublikasikan hasil penelitiannya. Mereka menyimpulkan bahwa faktor yang bertanggung jawab dalam proses transformasi adalah DNA. Avery, MacLeod, dan McCarty melakukan penelitian berlandaskan pada hasil yang dicapai oleh Griffith, dengan menggunakan galur IIIS dari D. pneumoniae.

Bukti tambahan yang mengindikasikan bahwa DNA adalah materi genetik yang dipublikasikan pada tahun 1952 oleh A. D. Hersey (penerima hadiah nobel tahun 1969) dan M. Chase. Eksperimen ini menunjukan bahwa informasi genetik dari bakteri virus tertentu (bacteriophage T2) terdapat dalam DNA. Hasil eksperimen mereka meskipun kemungkinan kurang dapat dipastikan dibandingkan dengan hasil percobaan Avery, Macleod, dan Mc Carty menghasilkan dampak besar terhadap penerimaan para ilmuwan bahwa DNA sebagai materi genetik (Gardner, 1991).

Hershey dan Chase menggunakan virus Fag T2 dalam percobaannya dengan bahan uji lainnya adalah bakteri E. Coli. Digunakannya virus Fag T2 karena virus ini telah diketahui sebelumnya mengenai strukturnya dengan menggunakan mikroskop cahaya biasa. Virus T2 ini juga merupakan virus yang menginfeksi bakteri E. Coli. Selain itu, virus ini bentuknya sederhana, yaitu terdiri atas cangkang protein yang berisi bahan genetik. Metodenya adalah virus yang sama-sama dimasukkan kedalam suatu tabung reaksi atau alat uji dapat menginfeksi bakteri E. Coli dan menjadikannya sebagai inang atau perantara bagi pembiakan diri virus hingga tubuh virus dapat berlipat ganda dengan mengeksploitasi bakteri.

Percobaan yang dilakukan oleh Hershey dan Chase ini meliputi dua tahapan atau proses, yaitu tahap pertama dengan unsur fosfor-32 radioaktif (isotop radioaktif) sebagai indikator dan selanjutnya tahapan kedua yaitu dengan menggunakan belerang-35 radioaktif sebagai indikator. Singkat kata, percobaan Hershey dan Chase ini juga ingin membuktikan mengenai siapa yang bertanggungjawab atas pemrograman ulang tubuh inang untuk memproduksi virus dalam jumlah besar.
Protein (bukan DNA) mengandung unsur belerang dan unsur-unsur radioaktif yang digunakan dalam percobaan ini hanya masuk kedalam protein dari faga tersebut. Pada DNA dapat ditemukan unsur fosfor, dan unsur ini tidak ditemukan pada asam amino yang merupakan komponen dasar protein.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa virus Fag T2 menyuntikkan bahan genetik berupa DNA kedalam tubuh inangnya dengan selubung proteinnya tetap berada diluar. Selanjutnya, DNA yang merupakan bahan genetik dari virus akan merusak kerja dari DNA bakteri E. Coli, sehingga DNA virus dapat mengendalikan kerja tubuh bakteri. Pengalihan perintah kerja oleh bahan genetik ini digunakan untuk memperbanyak jumlah DNA virus.

Para saintis dapat menemukan (pada percobaan dengan isotop radioaktif belerang) bahwa yang masuk kedalam tubuh inang hanyalah materi genetiknya (DNA) saja didasari pada pellet dan supernatant larutan tadi. Sebagian besar radioaktivitasnya ditemukan didalam supernatan yang mengandung partikel-partikel virus bukan bakteri.
Sebaliknya, pada percobaan dengan isotop radioaktif fosfor ditemukan paling banyak radioaktif adalah materi bakterial. Pada saat bakteri yang terinfeksi dilepasakan kembali kedalam medium kultur, tetap saja infeksi oleh virus terus terjadi dan E. Coli melepaskan Fag-fag yang mengandung sejumlah fosfor radioaktif.

Salah satu kesimpulan diantara delapan kesimpulan yang diperoleh oleh percobaan yang dilakukan oleh Hershey dan Chase dapat dilihat sebagai berikut sebagaimana yang ditampilkan dalam The Journal of General Physiology (1952) “The phage progeny yielded by bacteria infected with phage labeled with radioactive sulfur contain less than 1 per cent of the parental radioactivity. The progeny of phage particles labeled with radioactive phosphorus contain 30 per cent or more of the parental phosphorus.”

Kesimpulannya, percobaan yang dilakukan oleh Hershey dan Chase membuktikan bahwa DNA virus masuk kedalam tubuh bakteri E. Coli, sedangkan sebagian besar protein virus tetap berada diluar. Masuknya materi genetik kedalam tubuh bakteri akan menyebabkan terjadinya kerusakan program genetik bakteri karena diambil alih oleh DNA virus. Hal ini menyebabkan virus dapat dengan mudah memperbanyak diri selama di dalam tubuh bakteri. Percobaan Hershey dan Chase memberikan bukti kuat bahwa asam nukleat (bukan protein) merupakan materi hereditas.

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s