Laksono, Andi. 2009

Divisi Bacillariophyta adalah kumpulan alga yang lebih dikenal sebagai diatom dan merupakan fitoplankton yang penting karena diatom ini bertindak sebagai produsen primer dalam jaring makanan di ekosistem akuatik. Diatom adalah organisme mikroskopis yang memiliki bentuk serta ukuran yang berbeda-beda, dari yang bersel satu hingga yang berbentuk rantai. Dari segi morfologi, diatom digolongkan dalam dua kelompok yaitu diatom sentrik dan diatom penat (Ahmad & Ahmad, 1994).

Menurut Sujana (2007) diatom adalah ganggang kersik; uniseluler, berkoloni membentuk plankton yang berada di air laut dan air tawar. Hidup terapung namun sebagian kecil hidup melekat. Dinding sel terdapat dua lapis, seperti kotak karton dengan tutupnya. Dinding mempunyai kandungan silikat atau lendir yang berada pada tutupnya. Dinding sel bercelah, lewatnya di getah lendir. Lendir melancarkan pergerakan pindah tempat dan mengandung pigmen (zat warna) coklat keemasan campur klorofil, sehingga membuat ganggang ini berwarna-warni. Diatom diperkirakan mempunyai 10.000 spesies dalam ekosistem akuatik dan hampir keseluruhannya adalah unisel. Diatom dapat hidup secara individu, namun setengah spesies hidupnya berkoloni dan terdapat juga diatom yang berada di dalam bungkus mukus (Niken, 2005).

Diatom mempunyai dinding sel yang terdiri dari dua bagian yang bertumpukan (frustul) dan berasal dari silika. Bagian dinding atas disebut sebagai epiteka dan bagian bawah disebut sebagai hipoteka. Epiteka dan hipoteka sangat rapat seperti cawan petri. Epiteka yang berasal dari komponen epivaf dan episingulum berukuran lebih besar daripada hipoteka yang berasal dari komponen hipofav dan hiposingulum. Kedua teka tersebut tergabung menjadi frustul. Dari atas atau bawah, frustul diatom berbentuk cembung dan melengkung ke dalam, sedangkan bila dilihat dari girdle (sisi diatom), frustul berbentuk seperti segi empat memanjang, bentuk kipas dan juga berbentuk bulat atau elips. Walaupun demikian, tidak semua frustul diatom berasal dari bahan silika kokoh dan kuat. Misalnya genus Chaetoceros, Rhizosolenia, Nitzchia dan beberapa diatom di kawasan litoral yang berasal dari bahan silika lemah (Niken, 2005).

Perifiton adalah hewan maupun tumbuhan yang hidup di bawah permukaan air, sedikit bergerak atau melekat pada batu-batu, ranting, tanah atau substrat lainnya. Perifiton juga dikenal sebagai aufwuchs ( Michael, 1984 dalam Mahanal, 1998). Perifiton dari kelompok hewan pada umumnya terdiri dari protozoa dan Rotifera, sedangkan perifiton dari kelompok tumbuhan sebagian besar terdiri dari mikroalga (Afrizal, 1992)

Dalam ilmu perairan, organisme mikro yang hidup berada di sekitar atau menempel pada permukaan substrat yang tenggelam biasa disebut perifiton. Disebut demikian karena pada awalnya organisme ini hidup menempel pada permukaan batang tumbuhan air. Perifiton dapat tumbuh secara alami pada bermacam benda yang berada di dalam air selama beberapa waktu. Hal ini dapat diindikasikan dari licinnya benda yang ditempeli perifiton, perifiton dapat berfungsi sebagai pakan alami ikan dan ternak atau bahan baku pengolah limbah cair secara biologi (Niken, 2005).

Diatom (Bacyllariophyta) merupakan salah satu divisi utama dari mikroalga perifiton. Divisi utama selain diatom (Bacyllariophyta) adalah Chlorophyta dan Cyanophyta (Arifin, 1996 dalam Mahanal, 1998). Dari tiga divisi utama tersebut, diatom merupakan komponen komunitas perifiton yang terbanyak pada ekosistem sungai (Mahanal, 1998).

Diatom perifiton adalah mikroalga Bacyllariophyta bersel satu walaupun beberapa diantaranya ada yang berbentuk koloni, yang memiliki kemampuan melekat pada permukaan substrat lebih baik daripada mikroalga lainnya (Saptasari dkk, 2007). Diatom perifiton merupakan indikator biologi yang baik untuk mengetahui tingkat pencemaran yang terjadi pada suatu badan air (Odum, 1971). Pertumbuhan dan perkembangbiakan diatom perifiton sangat tergantung pada kualitas dan kuantitas senyawa kimia yang terlarut dalam air (Munteanu dan Maly, 1981; Daksini dan Soni, 1982; Watanabe dkk., 1986 dan Sabater dkk., 1987).

Perubahan kandungan senyawa kimia yang masuk ke dalam suatu perairan merupakan faktor penting dalam mempelajari perkembangan komunitas diatom perifiton (Chalnoky 1986, dalam Afrizal, 1992). Peran penting diatom perifiton dapat dilihat dalam ekosistem perairan, hal ini berhubungan dengan fungsi diatom perifiton sebagai produsen dalam rantai makanan yakni penghasil bahan organik dan oksigen (Yoshitake dan Fukushima, 1985 dalam Mahanal, 1998). Dalam perairan sungai, diatom perifiton mendominasi peran produsen jika dibandingkan dengan fitoplankton. Hal ini dikarenakan diatom perifiton tidak terbasuh dan relatif tetap pada suatu tempat, jika fitoplankton di sungai selalu terbawa arus (Mahanal, 1998).

Beberapa alasan penting digunakannya diatom perifiton sebagai bioindikator adalah karena diatom memiliki cangkang dari silika yang sukar dihancurkan, sehingga memudahkan pengawetan, penyimpanan dan pengamatan. Penyebaran diatom perifiton sangat luas serta dapat dicuplik dengan alat yang sederhana dan murah. Diatom dapat diidentifikasi dan jumlahnya dapat dihitung dengan tepat setelah cuplikan dicuci dengan asam sulfat. Diatom hampir selalu dapat dikumpulkan dalam jumlah yang cukup banyak untuk kepentingan analisis statistika.

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

2 responses »

  1. mas… referensinya bisa mintak ga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s