Meninjau dari side of view profesionalitas sedikitnya ada 4 kompetensi besar yang wajib dimiliki seorang guru, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi akademik. Guru disamping tugasnya sebagai pendidik juga dihadapkan pada permasalahan lain yang terkait pendidikan yang begitu banyaknya, seperti mengedukasi masyarakat, mengembangkan keilmuan dalam bidang aplikasi. Tidak jarang pula sebagai pengamal ilmu pedagogik guru dihidangkan pada permasalahan psikologis siswa.

Entah mulai kapan sebutan Pahlawan tanpa tanda jasa itu melekat dipundak guru, tidak terdeteksi semenjak tahun berapa pangkat itu disematkan sebagai penghibur pada guru yang pada kala itu mendapatkan penghargaan materiil dan moril yang bisa dibilang termarginalkan bila dibandingkan dengan profesi lain dengan tuntutan level pendidikan yang sejenis.
Reorientasi profesionalisme guru sejak beberapa tahun yang lalu sudah mengalami perbaikan, baik itu melalui kegiatan penyusunan portofolio untuk sertifikasi, pelaksanaan PPG atau bahkan tes kemampuan bidang.

Guru sebagai salah satu pengamal dan pengembang UUD 1945, dalam UUD 1945 tersebut secara eksplisit tertera mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga secara simultan beliau-beliau selalu berusaha meningkatkan martabat bangsa ini melalui pendidikan. Tengok kawan-kawan guru yang mengabdi di daerah tertinggal, terluar dan terpencil yang tersebar seantero Indonesia, coba pandang kawan-kawan GTT yang bersedia diberi imbalan materi yang begitu minim, coba lepas kaca mata kita dan saksikan dengan mata telanjang para guru yang mendidik siswa berkebutuhan khusus.

Masih pantaskah kita sebut mereka Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?
Sebutan Pahlawan cendekia lah yang sekarang cocok disematkan pada para pendidik ini, sesuai dengan apa yang tercantum dalam UU No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang-undang ini jelas manjadi payung hukum dan sandaran yang kokoh bagi guru dalam mengangkat harkat dan martabatnya. Seperti apakah Pahlawan cendekia tersebut? Guru yang menyandang gelar ini hendaknya (a) tajam pemikirannya, cerdas, dan lekas mengerti (b) cepet memahami situasi dan pandai mencari jalan keluar dan cerdik (c) terpelajar, cerdik pandai, cerdik cendekia.

Akhirnya, marilah kita melakukan autokritik terhadap pemahaman kita sendiri dan urgensi tentang restrukturisasi pada Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Itu. Siapapun kita, pasti ada orang luar biasa yang telah mendidik kita dan menjadikan kita seperti saat ini, beliaulah yang disebut dengan Guru. Tidak ada salahnya kita menyematkan hak yang memang sudah semestinya dengan sebutun Guru sebagai Pahlawan Cendekia.

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s