Penyakit yang banyak menyerang hewan ternak (sapi) dan mampu memberikan dampak luas pada individu yang terserang. Pemahaman tentang: apa itu cacing hati? jelas diperlukan bagi para peternak untuk mampu memberikan upaya preventif

Suryani, Kiki. 2012

F. hepatica dewasa mempunyai panjang tubuh antara 12.22- 29.00 mm (Periago, et al. 2006). F. hepatica berbentuk pipih seperti daun dengan bentuk bahu yang khas yang disebabkan oleh kerucut kepalanya (chepalic cone), batil hisap kepala dan perut yang sama besarnya di daerah kerucut kepala, usus dengan banyak cabang di vertikulum, testis yang bercabang banyak dan tersusun sebagai tandem, kelenjar vitellaria yang bercabang-cabang secara merata di bagian lateral dan posterior badan, uterus pendek dan berkelok-kelok. Telur F. hepatica berukuran besar, berwarna kuning coklat dengan operkulum. Cacing dewasa hidup di saluran empedu bagian proksimal, kantong empedu, dan kadang-kadang di tempat-tempat ektopik. Metabolisme cacing F. hepatica adalah secara anaerob dan mendapat makanan dari sekresi empedu (Brown, 1979).

Trematoda secara seluler memiliki lapisan luar (epikutikula) yang tidak berinti dan bersinsitial. Epikutikula dihubungkan oleh tabung-tabung sitoplasmik sempit dengan bagian tegumen yang berinti melalui sitoplasma membrana basalis dan lapisan otot-otot tubuh. Terdapat mikrovili vesikula pinositik pada permukaan luar larva dan cacing dewasa. Struktur ini menimbulkan dugaan adanya fungsi ekskretori dan sekretori (Noble dan Noble, 1989). Kutikula atau dinding luar (tegumen) trematoda kadang-kadang mengandung duri atau sisik (Levine, 1990).

Tegumen F. hepatica dibentuk oleh suatu kompleks lipoprotein, butir-butir karakteristik di dalam lapisan kutikula terdiri dari suatu asam mukopolisakarida. Sisik-sisik dan duri-duri dari trematoda ini dibentuk oleh sebuah skleroproteida dengan karakteristik banyak sistein, seta banyak substansi lipid. Tegumen mempunyai lapisan luar, epikutikula, yang tidak berinti, sinsitial, dan dihubungkan oleh tabung-tabung sitoplasmik sempit dengan bagian tegumen yang berinti, melalui membran basalis dan lapisan-lapisan otot tubuh, dengan masa sitoplasmik yang terletak di dalam parenkima (Noble dan Noble, 1989).

Bagian luar tubuh cacing F. hepatica terdiri dari tegumen dan berfungsi untuk penyerapan nutrisi. Analisis histokimiawi terhadap cacing F. hepatica menunjukkan bahwa tegumen dibentuk oleh suatu kompleks lipoprotein. Butir-butir karakteristik di dalam lapisan kutikula terdiri dari suatu asam mukopolisakarida. Sisik-sisik dan duri-duri dari trematoda ini dibentuk oleh sebuah skleroproteida dengan karakteristik berisi banyak sistein, serta banyak substansi lipid (Noble dan Noble, 1989).

Saluran pencernaan F. hepatica tidak lengkap. Sistem pencernaan dimulai dengan mulut yang dikelilingi oleh batil hisap, faring, esofagus dan usus tetapi tidak berakhir di anus. F. hepatica sering bermigrasi ke dalam saluran empedu dan kapiler inang untuk mendapatkan makanan. F. hepatica memakan darah, getah bening, dan sari empedu dengan menggunakan batil hisapnya ke dinding empedu inang. F. hepatica menghisap makanannya dibantu dengan otot faring (Flex, 2009).

Makanan dihisap oleh otot faring dan dipompa ke dalam usus melalui kerongkongan. Pencernaan berlangsung di dalam caeca usus yang juga berperan dalam penyerapan makanan. Makanan yang dicerna berdifusi ke dalam parenkima dari mana makanan tersebut didistribusikan ke seluruh tubuh melalui diverticulae lateral dan median usus. Substansi monosakarida seperti glukosa dan fruktosa yang tersedia dalam tubuh inang diketahui menyebar atau berdifusi secara langsung ke dalam tubuh F. hepatica melalui permukaan tubuh. Banyaknya lipatan-lipatan membantu tegumen dalam proses penyerapan dan difusi. F. hepatica tidak memiliki anus sehingga makanan yang tidak tercerna akan dibuang melalui mulut. Cadangan makanan disimpan terutama dalam bentuk glikogen dan lemak dalam parenkim dan otot-otot (Flex, 2009).

Absorbsi glukosa berlangsung lewat tegumen yang membantu aktivasi nutrisi secara umum pada cacing. Tegumen juga berkaitan dengan fungsi respiratoris dan sensoris. Tegumen resisten terhadap aktivitas pepsin dan tripsin karena asam-asam mukopolisakarida, dan mucin (lendir). Resistensi yang dimiliki merupakan suatu faktor utama dalam melindungi cacing terhadap sistem pertahanan inang (Noble dan Noble, 1989).

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s