SMAN 5 Malang tempat saya berbagi informasi dengan siswa merupakan sekolah yang berbudaya lingkungan, diantara sekian kegiatannya adalah Bird Watching yang merupakan sebuah kegiatan pengamatan terhadap burung-burung dengan mata telanjang, atau dibantu oleh alat pengamatan seperti teropong binokular, kamera atau dengan mendengar suara burung.  cek di Bird Watching.

Beberapa waktu yang lalu, saya meminta anak didik saya untuk melakukan Bird Watching, suatu kegiatan pendidikan lingkungan hidup yang coba kami galakkan untuk siswa kami, tidak hanya pengamatan yang menjadi core tugas ini, namun yang paling penting adalah perubahan sikap. Berikut laporan singkat mereka tentang pengalaman seputar mengamati burung, dan secara tersirat “pembaca” akan mampu melihat perubahan sikap dan point of view siswa akan “peri-kehewanan”.

Minggu , 07 Oktober 2012. Alun-Alun Kota Malang

Hari ini, siswa XI aksel -2 melaksanakan Bird Watching di Alun-Alun Kota Malang. Disini, kami memulai dengan berkeliling alun-alun. Tak terasa, langkah kaki ini terhenti ketika melihat sesosok primata yang sedang mencari nafkah untuk tuannya. Dengan ikhlas salah satu teman kami menyumbangkan sedikit rezekinya kepada sang pencari nafkah. Ya, kami turut merasakan penderitaan monyet itu. Seekor monyet yang selalu diperbudak oleh kaum-kaum pribumi.

Perjalanan kita tak sampai disitu saja. Kami pun melanjutkan langkah kami menyusuri alun-alun Kota Malang. Namun, dilain sisi alat yang kami bawa tidak bersahabat dengan kami. Tak disangka, tak dinyana teropong tua buatan Rusia yang kami bawa ternyata telah memasuki masa kritis dalam kiprah perjalanan karirinya. Betapa pilunya hati kami mendapati teropong itu dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Pada akhirnya kami memberikan pertolongan pertama bagi teropong memilukan tersebut. Kuusap tiap jengkal tubuhnya dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang dari lubuk hati yang paling dalam. Kami tak tahu harus berbuat apa, sehingga kami harus meninggalkan teropong itu di dalam tas sendirian. Di dalam tempat yang aman dan nyaman.

Pada akhirnya kami hanya menggunakan sebuah SLR pengambil gambar bersejarah yang telah menemani FASTRADHA beberapa akhir bulan ini. Dengan rahmat Allah yang Mahakuasa dan didorongkan oleh keinginan luhur, kami memulai perjalanan kami. Burung demi burung di sekitar kami membuat hati kami terenyuh dan terhempas dalam lautan luka dalam karena tidak ditempatkan ditempat yang semestinya. Tempat yang sangat kumuh, tak layak huni, dan kurang terawat bagi seekor burung dara yang keindahannya tak tertandingi. Kami pun mengabadikan momen demi momen dengan jepretan kamera yang kami bawa.

Di jalan yang kami tempuh, berceceran sisa-sisa makanan yang bahkan sudah tidak layak untuk dimakan. Tetapi, hanya itulah satu-satunya makanan yang bisa mereka nikmati. Karena memang tidak ada satu orang pun yang memperhatikan hidup dan kehidupan mereka. Semua ini mereka lakukan untuk mempertahankan harkat hidupnya.

Penyusuran alun-alun kami terhenti karena keterbatasan jenis burung yang kami cari.  Akhirnya kami pun beranjak menuju ke Taman Rekreasi Kota, dimana disana terdapat beraneka ragam jenis burung yang dapat membantu penelusuran kami. Tetapi, keadaan burung-burung disini sangat tidak manusiawi. Mereka harus terkekang oleh sangkar-sangkar besi yang senantiasa menemani hari-hari mereka yang sangat pilu dan nestapa. Bagaimana tidak? Hari-hari mereka diisi dengan masa-masa kelam dimana mereka sangat sulit untuk menjangkau kebebasan di luar sana.

Kandang yang tidak memadai adalah pemandangan mereka sehari-hari. Bau yang tidak sedap terpaksa mereka hirup setiap detik. Kesepian yang telah menyelimuti diri mereka seolah-olah menjadi sahabat baik mereka.

Keadaan ini diperparah oleh kenyataan yang harus diterima di Splendid, dimana kehidupan mereka diperjual-belikan. Hak asasi mereka dipertaruhkan. Dan kebebasan mereka terhimpit oleh tempat tinggal yang sempit dan makanan dengan kualitas yang tidak layak.

Seharusnya biarkanlah mereka terbang bebas untuk merasakan dunia yang sesungguhnya. Yang mereka harapkan. Letih sudah kaki ini berjalan. Cukup sudah kami menyaksikan cerita alam yang begitu menyedihkan. Kami tak kuasa merasakan penderitaan mereka selama ini. Dan kami pun berharap agar kaum-kaum pribumi bisa lebih memahami kehidupan mereka dan memandang mereka sebagai harta karun dunia yang sangat berharga dan tiada tandingannya.

catatan perjalanan mereka dapat di baca di pengamatan burung (format pdf), content: pengamatan and foto. tinggal klik and then donlot …

 

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

One response »

  1. kasian pak :’9 tp mau gimana lagi ._.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s