Skor tes IQ sering dijadikan sebagai ukuran kecerdasan seorang anak di Indonesia. Padahal skor tersebut tidak berdiri sendiri melainkan saling  berhubungan dengan pola asuh, interaksi antara anak dengan orang tua, pola belajar, dan faktor lingkungan. Intelegensi meurut para ahli adalah kemampuan mental dalam berpikir logis dengan melibatkan rasio.

Pengukuran mental tidaklah dapat dilakukan secermat pengukuran terhadap aspek fisik atau terhadap materi konkret. Seperti yang kita pahami, intelegensi tidak dapat diamati secara langsung, namun intelegensi dapat diketahui dengan skor-skor tertentu, dan untuk memperoleh skor ini kemudian diadakan tes-tes yang berupa sample perilaku yang merupakan manisfetasi dari proses mental. Tes Intelegensi adalah alat ukur kecerdasan yang hasilnya berupa skor. Tetapi skor tersebut hanya merupakan bagian kecil mengenai tingkat kecerdasan seseorang dan merupakan gambaran kecerdasan secara keseluruhan

Skor bukan satu-satunya hal mutlak untuk memutuskan tingkat kecerdasan seseorang. Howard Gardner, psikolog pendidikan asal Amerika yang terkenal dengan teori multiple inttelligencenya menyatakan bahwa kecerdasan intelektual merupakan satu dari beberapa kecerdasan yang dimiliki seseorang. Kecerdasan-kecerdasan itu antara lain bahasa, matematis, berpikir logis, musik, visual, dan gerak. Namun alat ukur kecerdasan ganda tersebut masih dikembangkan oleh Gardner.

Yang patut dicemaskan saat ini adalah banyak lembaga pendidikan yang mewajibkan calon siswanya untuk mengikuti tes IQ terlebih dahulu sebagai persyaratan mutlak penerimaan siswa baru. Bahkan ada beberapa sekolah yang mensyaratkan tes IQ minimal 120 skala Weschler. Bahkan ada beberapa anak yang disarankan untuk masuk ke Sekolah Luar Biasa karena skor mereka kurang dari 120 skala Weschler tanpa mempertimbangkan latar belakang anak terlebih dahulu.

Setidaknya ada tiga faktor yang berhubungan dengan tes IQ:

1. Reliabilitas, yaitu sejauh mana hasil tes tersebut dapat dipercaya.

2. Validitas, yaitu sejauh mana alat ini mampu mengukur apa yang hendak diukur

3. Standarisasi, yaitu apakah alat yang dipakai sesuai dengan norma masyarakat sekitars

Oleh karena itu penggunaan tes IQ harus dilakukan dengan bijaksana. Tes IQ jangan dijadikan sebagai tolak ukur satu-satunya dalam menentukan potensi seseorang. Hasil tes inteligensi yang tinggi sebenarnya tidak menjanjikan apa-apa selama tidak ditopang oleh faktor-faktor lain yang kondusif, begitu juga sebaliknya.

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s