Lampu dapat memberikan efek yang begitu dramatis pada ruangan berukuran besar, apalagi pada ruangan berukuran kecil. Salah satu bukti nyata pengaruh lampu tersebut ada pada proyek “Spectral Apartment” di Levallois, Paris, Perancis.

Proyek “Spectral Apartment” merupakan proyek renovasi yang dilakukan oleh perusahaan arsitektur asal Paris, Betillon/Dorval-Bory. Proyek tersebut melibatkan apartemen seluas 20 meter persegi yang hanya memiliki sedikit akses ke sinar matahari. Untuk itulah, klien Betillon meminta perusahaan ini mengatasi masalah seputar kurangnya cahaya.

Betillon mengatasi masalah itu dengan cara memberikan perhatian lebih pada indeks warna rendering (CRI). Indeks warna ini merupakan sistem internasional yang digunakan untuk menilai kemampuan lampu menampilkan warna. Semakin tinggi CRI (dalam skala 0-100), semakin kaya warna yang dapat muncul. Dengan kata lain, semakin tinggi tingkat CRI cahaya, maka ia mampu menampilkan warna sesuai dengan sebenarnya.

Sementara itu, lampu dengan tingkat CRI rendah mampu “menghilangkan warna”. Lampu-lampu dengan tingkat CRI rendah umumnya merupakan lampu jalan yang berwarna kekuningan. Adapun lampu fluorescent tergolong lampu dengan CRI tinggi.

Dengan dasar ini, arsitek Phillipe Rahm memiliki ide untuk mengeksplorasi kualitas spektral. Ia menggunakan dua sumber cahaya, yang tinggi dan rendah tingkat CRI-nya.

Salah satu jenis lampu yang ia gunakan adalah natrium bertekanan rendah (LPS). Lampu berwarna oranye tersebut memiliki tingkat CRI sangat rendah. Lampu yang digunakan sebagai lampu jalan tersebut memang selama ini menyulitkan polisi dalam berpatroli karena hampir mustahil dapat mengenali warna mobil dengan benar. Selain itu, lampu ini juga menggunakan lampu fluorescent untuk bagian lain apartemen.

Dalam proyek ini, langkah pertama dilakukan adalah membagi apartemen sesuai kebutuhan cahayanya. Ruang-ruang seperti dapur dan ruang keluarga dinyatakan sebagai ruang-ruang yang membutuhkan pengenalan warna. Sementara kamar tidur dan kamar mandi merupakan ruang-ruang yang cukup hanya dengan menggunakan pencahayaan monokromatik.

Tinggi dan rendahnya CRI juga menjadi elemen penting dalam komposisi ruang. Di satu sisi, lampu-lampu dengan tingkat CRI mencapai 90 CRI (940 tube fluorescent) dengan temperatur netral (4000K) ada di apartemen ini, sedangkan lampu-lampu LPS dengan tingkat CRI mencapai nol juga tersedia.

Masing-masing sumber cahaya memproduksi 16.000 lumen. Penggunaan kedua jenis lampu ini membantu membentuk ruang, tanpa mendikte pemiliknya.

Sirkulasi dan jalur pergerakan penghuni sengaja dibuat terbuka. Pemilik hanya “digiring” mengikuti komposisi logika dari lampu-lampu tersebut. Kedua jenis lampu memiliki tombol penyala berbeda. Maka, pemilik dapat memilih lampu mana yang akan mereka gunakan.

sumber

About JavAurora

Aku bagai berjalan di atas air, beriak tapi tak berbekas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s